Selasa, Februari 12, 2008

DARI BIOTA LAUT SETARA PERTAMAX

Pengantar
Berikut ini berita yang dimuat di Tabloid Motor Plus No. 467/VIII. Sabtu, 9 Februari 2008. Temuan Bahan Bakar Nusantara (BBN) dari biota laut ini dimaksudkan sebagai upaya dari Bung AK untuk mewujudkan Kedaulatan Energ
i. Bung AK bercita-cita pada tahun 2014 nantinya 50% energi dunia ada di Indonesia. Sekarang ini 40% energi dunia dikuasai oleh Amerika Serikat (Red)

Sumber : http://www.motorplus-online.com/articles.asp?id=12003

Krisis energi mendorong banyak orang berkreasi dan melakukan penelitian. Termasuk penelitian tentang Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin langka dan makin mahal harganya. Inilah yang mendorong BSW Adji Koesoemo dari komunitas Indonesia Bangkit melakukan riset biota laut yang dapat menghasilkan minyak.

“Saya riset bertahun-tahun. Saya sadar bahwa negeri ini 50% dikelilingi laut yang sangat kaya biota laut atau semacam plankton, bisa diolah menjadi minyak mentah. Dan hasilnya berupa BBM setara pertamax. Karena kadar oktannya sudah mendekati 94. Dan harga jualnya cukup menggiurkan karena hanya Rp 1.500,- per liter.” Buka BSW Adjikoesoemo.

Akhirnya, “Temuan ini diberi nama Bahan Bakar Nusantara (BBN),” jelas BSW Adjikoesoemo saat dijumpai di Perim Griya Mahkota, Blok J No. 13 Jogjakarta. Menurutnya untuk memproduksi BBN ini, tidak diperlukan biaya mahal. Karena biaya produksi per liter hanya perlu biaya antara Rp 340 – 500.

“Jadi, memang sangat murah sekali. Dan dipastikan rakyat Indonesia tidak mengeluh boros mengeluarkan uang untuk membeli BBM yang saat ini teramat mahal,” kata pria biasa disapa Bung AK ini.

Biota laut masih dalam bentuk aslinya diproses atau diolah dan menghasilkan beberapa bagian. Diantaranya 60% air, 10% residu atau ampas dan 30% minyak mentah. Dari hasil 30% minyak mentah diproses lagi dengan cara penyulingan dan menghasilkan bensin, solar dan minyak tanah. Ampas juga bisa untuk pakan ternak, pupuk dan apabila dicampur tanah (abu-abu dari Kebumen-red) akan menjadi aspal.

Dan untuk perkembangbiakan biota laut, bisa dilakukan di darat dengan kelembaban tertentu. Pemanenan biota laut bisa dilakukan setiap 10 hari sekali. Setiap satu hektar lahan menghasilakan 140 ribu liter.

“Nantinya temuan ini akan saya serahkan ke pemerintah (maksudnya Negara-red), biar mereka yang mengelola. Disamping itu, agar rakyat di negeri ini menjadi makmur,” tutup Adjikoesoemo yang masih kerabat Sri Sultan ini.

AKADEMISI BERKOMENTAR

Dr. Supranto yang Ketua Pasca Sarjana Teknik Kimia Universitas Gajahmada (UGM) Jogjakarta membenarkan adanya temuan biota laut yang dapat diolah menjadi minyak. Biota laut yang dikembangkan berupa tumbuhan atau sejenis rumput laut. Atau tanaman rendah yang banyak mengandung asiri dan hidro karbon.

Biota laut jenis ini tidak telihat mana batang, daun ataupun bunga, karena bentuknya sama semua. Dan jenis ini memang bisa dikembangkan di darat dengan kadar kelembaban udara tertentu,” jelas Bapak murah senyum ini.

Dikatakan lebih lanjut , untuk pengolahan bisa ditempuh dengan dua cara. Yaitu dengan estilasi, dimana biota laut diolah dengancara dilarutkan dalam solven atau pelarut. Pelarut bisa berupa etanol, alcohol atau benzene.

Cara kedua lewat langkah destilasi. “Atau orang biasa menyebutnya cara penyulingan. Relatif lebih murah dari langkah yang pertama. Karena dengan sistim pemanasan, akan dipisahkan menjadi bahan bakar padat, cair dan gas,” terangnya lagi.

Bahan bakar gas yang dimaksud adalah LPG, bisa dipakai untuk keperluan masak. Sedang yang cair bisa berupa minyak tanah, solar dan bensin. Dan dari hasil penyulingan itu, akan dihasilkan pirolosis atau termal cracking. Itupun masih harus dipisahkan lagi antara bensin, solar dan minyak tanah. Dan bensin yang dihasilkan mengandung oktan antara 86-94 atau hamper setara Pertamax.

Juga akan terasa agak wangi karena kandungan alkoholnya tinggi. “Dan tidak menutup kemungkinan bahwa temuan Adji ini merupakan loncatan yang luar biasa dan harus digandeng oleh pemerintah selaku pihak yang sangat berkompeten,” tutupnya penuh harap

HASIL UJI COBA EM-PLUS

1. Warna bensin seperti Premium pada umumnya
2. Saat dicium bensin memang rada lebih wangi. Kata Dr. Supranto karena masih mengandung alkohol
3. Diuji di Yamaha Mio, bahan bakar yang sebelumnya ada ditangki dan karburator tentu dikuras.
4. Kemudia dituangkan bensin dari biota laut ini sebanyak setengah liter untuk dicoba.
5. Motor distandar tengah, mesin dinyalakan beberapa saat. Memainkan putaran mesin dan digas sampai mentok.
6. Motor dijalankan mulai dari Jl. Kaliurang KM 6,5 menuju Kaliurang yang kontur jalannya semakin naik. Mulai jalan pelan dan stabil antara 30 – 40 KM/jam.
7. Dicoba kecepatan tingggi setelah memasuki wilayah Pakem KM 15. Jalan mulai naik dan turun. Pada kecepatan tinggi mesin juga tidak menimbulkan gejala mbrebet. Dan begitu sampai kaliurang, bensin habis dan tidak mengalami hambatan

3 komentar:

Bung AK mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Hi_Jack mengatakan...

Mantep,.. Nuwun sanget

Anonim mengatakan...

pak aji bagaimana respon pemerintah hingga saat ini?? jika bapak bersedia, bapak bisa bekerjasama dengan dunia pendidikan untuk diperjuangkan melalui hibah2 penelitian yang akan ditindaklanjuti oleh pemerintah. maturnuwun. sederek dukuh