Rabu, April 09, 2008

PETANI KORBAN POLITIK PANGAN PENGUASA

Politik Pangan merupakan batu uji keberhasilan penguasa. Penguasa yang bijak menjadikan masalah pangan sebagai perioritas. Maka, Negara maju memberikan subsidi kepada petani dan menjamin pembelian hasil tani dengan harga pantas.

Sekarang ini harga komoditas pangan diseluruh dunia naik sekitar 75%. Menurut laporan FAO bulan Februari lalu Indonesia termasuk salah satu dari 36 negara yang mengalami krisis pangan. Permulaan krisis ini sudah Nampak nyata didepan mata kita dimana kualitas pangan untuk rakyat miskin sudah kian menurun.

Sementara itu, politik pangan yang dilaksanakan oleh pemerintahan SBY-Yusuf Kalla, terus menerus mencundangi para petani. Saya katakan mencundangi petani karena :

Pertama, petani sebagai penghasil beras, terus menerus “terpaksa dan dipaksa” menerima harga senyatanya bukan harga yang seharusnya, yaitu harga pokok pembelian (HPP) pemerintah saat terjadi panen raya.

Kedua, ini yang lebih kebangetan dan tidak masuk akal lagi. mengapa harga beras saja yang tidak diperlakukan secara tidak adil. Padahal ketika terjadi gejolak harga kedelai dan minyak goreng yang beberapa lalu terjadi, pemerintah tanggap dan cepat untuk melakukan stabilisasi. Sementara ketika harga gabah atau beras turun pemerintah diam seribu bahasa.

Malah Bulog sebagai sebuah intitusi pemerintah yang diberi tugas untuk melakukan pembelian gabah dari petani malah bermain mata dengan para kaki tangannya untuk mempermainkan harga gabah,

Dan kita tahu sama tahu, kaki tangan Bulog tersebut menjual ke Bulog dengan harga Harga Pokok Pembelian (HPP) sebesar Rp 2.575,- untuk gabah kering giling (GKG) dan Rp 2.000,- untuk gabah kering panen (GKP) yang ditetapkan oleh pemerintah. Sementara para tengkulak yang merupakan kaki tangan Bulog membeli gabah kering giling dari petani berkisar Rp 1.600,- s/d Rp 1.700,-. Padahal kita semua tahu, dana bulog untuk membeli gabah petani tersebut berasal dari APBN. Pada tahun 2007 yang lalu pemerintah telah mengalokasikan dana tak kurang dari 7 trilyun dikucurkan kepada Bulog untuk membeli gabah dari petani. Namun kenyataannya dana dari APBN tersebut malah dipakai oleh Bulog bukan untuk membeli langsung gabah dari petani tetapi Bulog membeli gabah petani lewat para tengkulak yang menjadi kaki tangannya tersebut.

Dan yang lebih lucu dan konyol adalah pernyataan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Ardiansyah Parman yang dimuat oleh media cetak pada 3 Maret yang lalu, bahwa "HPP hanya patokan bagi Bulog membeli beras atau gabah petani ketika harga di lapangan anjlok. Namun, bukan berarti petani harus menjual beras mengikuti HPP. Sekali lagi disini, bahwa tujuan pemerintah menetapkan HPP padi dan beras bukan untuk melindungi petani tetapi lebih sebagai alat untuk menyudutkan petani agar “terpaksa dan Dipaksa” untuk menerima harga yang senyatanya, bukan harga yang seharusnya.

Berdasarkan perhitungan ini petani dengan luas garapan 1 Ha hanya menikmati pendapatan bersih per bulannya Rp 3.830.000,- dibagi 4 bulan = Rp 957.500,- Pendapatan ini masih jauh dibawah UMR di Yogyakarta.

Ketiga, sekarang ini terjadi perbedaan harga pasar beras dalam negeri dengan harga beras di pasar internasional (disparitas harga) mencapai Rp 1.800,- Sedangkan harga GKG ditingkat petani sekarang ini berkisar antara Rp 1.600,- s/d Rp 1.700,- Melihat fakta dilapangan seperti ini, lantas logika ekonomi dan matematika mana yang bisa menjelaskan KETIDAKADILAN ini.

Bukankah pemerintah ketika harga minyak dunia naik buru-buru menaikkan harga BBM ? Atau harga CPO dipasaran internasional para pengusaha perkebunan kelapa sawit menjualnya ke pasar internasional dan akibatnya harga minyak goreng di dalam negeri juga naik ? Dan juga ketika harga kedelai dipasar internasional naik, harga kedelai di dalam negeri juga melambung naik? Kemudian pemerintah memberikan subsidi pembelian kedelai dengan mengeluarkan KUPON PEMBELIAN KEDELAI?

Kenyataannya, ketika harga beras dunia mencapai USD 750 per ton atau setara Rp 6.900.000,- per ton ( kurs USD 1 = Rp 9.200,-). Sementara kini petani hanya bisa menjual beras ke Bulog dengan harga Rp 4.000.000,- per Ton. Mengapa Petani tidak boleh menikmati harga sesuai dengan harga di pasar internasional ? Berbuat apakah pemerintah dalam hal ini? Maukah pemerintah menaikkan HPP beras ? jelas tidak. Disinilah salah satu alasan penting perlunya UU Perlindungan Petani agar aturan main bisa jelas dan transparan.

Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah dan beras dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 13/2007

1. Harga GKP (gabah kering panen) Rp2.000 per kg,

2. Harga GKG (gabah kering giling) Rp2.575 per kg,

4. Beras Rp 4.000 per kg. "

BULOG, Alat Untuk Menindas Petani ?

Pada peringatan ulang tahunnya yang ke-40 pada 10 Mei 2007 yang lalu, Perum Bulog menggelar sejumlah acara yang sangat monumental. Salah satu adalah orasi profesi oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla sebagai mantan Kabulog. Jusuf Kalla mengatakan kini saatnya Perum Bulog melepaskan fungsi dan peranannya sebagai lembaga yang bersifat monopoli. Alasannya, "Dahulu di zaman Orde Baru memang digunakan sistem yang sentralistis, semua serba diatur, semua serba Jakarta, sehingga Bulog waktu itu bisa melakukan monopoli untuk semua kebutuhan pokok rakyat. Sekarang, sistemnya jadi desentralisasi dan mengikuti selera pasar, sehingga tidak dibolehkan lagi ada monopoli."

Sekilas pernyataan Wakil Presiden itu ada benarnya, namun jika dikaji lebih lanjut ternyata substansinya perlu diluruskan pemahamannya, khususnya menyangkut fungsi dan peranan Bulog sebagai lembaga yang bersifat monopoli demi kepentingan dan hajat hidup masyarakat banyak. Dalam mekanisme pasar meskipun praktik monopoli tidak diperkenankan dilakukan, selalu ada tempat dan pengecualian untuk kasus-kasus tertentu, khususnya menyangkut kepentingan hidup rakyat banyak dan untuk kepentingan stabilitas politik dan ekonomi negara.

Fungsi dan peranan Bulog sebagai lembaga yang memonopoli pengadaan beras bagi kepentingan masyarakat, ternyata masih dibenarkan undang-undang. Hal itu terlihat dalam UU No 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, Pasal 50 menyebutkan antara lain, "Yang dikecualikan dari undang-undang ini adalah perbuatan dan atau perjanjian yang bertujuan melaksanakan peraturan perundang-undangan yang berlaku."

Pasal 51 menyebutkan, "Monopoli dan atau pemusatan kekuatan yang berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran barang dan jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak, serta cabang-cabang produksi yang penting bagi negara diatur dengan undang-undang dan diselenggarakan oleh badan usaha milik negara dan atau badan atau lembaga yang dibentuk atau ditunjuk oleh pemerintah."

Di negara maju lembaga atau badan semacam Bulog masih banyak diterapkan dalam kebijakan pro rakyatnya. Seperti di AS, Jepang, dan Eropa Barat. Di Jepang badan ini khusus mengenai beras. Negara membeli beras petani untuk menjamin tersedianya keperluan pangan, dan juga untuk menjamin pemasaran produksi hasil tani rakyatnya demi meningkatkan daya beli petani, agar kemakmuran dan kesejahteraan petani dapat terjamin.

Dari kenyataan tersebut jelaslah undang-undang larangan praktik monopoli tidak sepenuhnya melarang adanya monopoli.

Di negara maju yang menerapkan sistem liberal dan mekanisme pasar murni, seperti di Jepang, AS, dan Eropa Barat, masih dibenarkan praktik monopoli yang dilakukan tidak melalui perusahaan tapi melalui badan khusus yang ditunjuk dan dibentuk negara. Sebagai ilustrasi bisa kita lihat di AS, badan khusus dibentuk untuk membeli hasil limpahan produk petani, kemudian disimpan untuk menjaga stabilitas harga.

Persediaan yang melimpah di gudang Bulog AS, kemudian diekspor ke negara-negara berkembang sebagai bantuan pangan dengan harga sangat murah, seperti kasus impor beras Indonesia dari Jepang tahun 1970-an dalam program Kennedy Round oleh Jepang. Bahkan, adakalanya AS menghibahkan hasil tani rakyatnya, yang secara ekonomis memang tidak menguntungkan, namun secara politis AS banyak mendapat benefit, khususnya dalam jangka panjang (Program PL-480).

Tugas dan Fungsi

Mustafa Abubakar, sebagai Kabulog yang baru, pada kesempatan tersebut mengatakan, tugas pokok Bulog adalah menjamin tersedianya beras bagi masyarakat dan menjamin stabilitas harga bagi petani dan konsumen. Untuk melaksanakan kedua fungsi itu Mustafa berjanji tidak akan membatasi penerimaan gabah dari petani, dan mengaktifkan 131 unit pengolahan beras di seluruh Indonesia.

Jika gudangnya kurang, Bulog juga menyewa gudang-gudang beras yang tidak lagi dibiayai pemerintah. Janji lain Mustafa sebagaimana dimuat Adil No 16, 17-30 Mei 2007, adalah fungsi pelayanan publik (PSO) Perum Bulog dengan bisnis komersial akan dipisahkan. Bulog akan membentuk dua anak perusahaan yang masing-masing bergerak di bidang jasa pangan serta industri perdagangan. Untuk meraih untung, anak usaha itu akan ditempatkan pada divisi regional dan subdivisi regional yang berpotensi menggarap komoditas seperti gula, kakao, dan jagung. Soal biaya akan ditanggung sepenuhnya oleh Bulog sendiri.

Namun kalau dicermati, fungsi pokok Bulog tersebut ada yang kurang dan sering dilupakan, yaitu fungsi menjamin peningkatan pendapatan petani, dalam meningkatkan daya beli mereka. Padahal sekitar 60 persen penduduk kita masih berada di sektor pertanian, sehingga meningkatnya daya beli petani secara otomatis juga meningkatnya daya beli rakyat Indonesia.

Pada masa Orde Baru Bulog masih bebas melakukan fungsi pokoknya secara monopoli untuk sembilan bahan kebutuhan pokok karena tidak adanya undang-undang antimonopoli. Pada masa Habibie, lahirlah UU No 5/1999 tapi status dan tugas pokok Bulog tidak berubah.

Namun, yang sangat memprihatinkan justru ketika Megawati menjadi presiden, keluarlah peraturan Pemerintah No 7 Tahun 2003 tentang Status dan Fungsi Utama Bulog. Ironisnya, mulai saat itu, fungsi pokok Bulog sebagai stabilisator harga komoditas pertanian dipangkas. Statusnya pun menjadi perusahaan umum, atau BUMN. Bulog, sebagai badan usaha diarahkan meraih laba di bidang pangan. Peranan sebagai stabilisator harga kemudian dikendalikan oleh Departemen Perdagangan.

Di sini mulai timbul dua fungsi saling bertentangan. Perubahan nama dari Bulog, yaitu singkatan dari Badan Urusan Logistik menjadi Perum Bulog, justru mengacaukan pengertian lembaga ini sendiri. Bagaimana nama Perum sebagai singkatan dari Perusahaan Umum digabung secara tidak pas dengan Badan Urusan Logistiknya Negara? Ke depan pemerintah mesti memutuskan memilih satu yang terbaik di antara keduanya, apakah ingin tetap sebagai Badan Urusan Logistik atau benar-benar menjadi perusahaan. Namanya, misalnya, menjadi Perum Perberasan atau Perum Beras Rakyat, sesuai Pasal 51 UU No 5/1999, yang diberi tugas memonopoli beras, tetapi harus didukung oleh UU khusus.

Namun, yang terbaik di antaranya adalah perlunya Bulog kembali ke fitrah asalnya, yaitu sebagai institusi negara yang mengurusi pengamanan persediaan beras dan stabilisasi harga, juga untuk meningkatkan daya beli petani, agar berbagai permasalahan yang timbul akibat ketidakjelasan fungsi dan tugas, bisa terselesaikan secara nyata dan mendasar.

Beras saat ini merupakan komoditi strategis karena masih menjadi makanan pokok rakyat Indonesia dan lebih dari 60 persen penduduk kita berada di sektor pertanian ini. Peranan Bulog sebagai lembaga negara yang melakukan monopoli untuk fungsi pokok seperti ini masih dibenarkan oleh undang-undang karena menyangkut keperluan hajat hidup rakyat banyak sebagaimana diamanatkan Pasal 33 UUD 1945. Di sisi lain dan ke depan Bulog perlu juga menambah fungsinya dengan ikut menciptakan peningkatan pendapatan dan daya beli petani sehingga akan memberi multiplier effect positif bagi perkembangan sektor kehidupan lainnya.

Monopoli beras tetap diperlukan sebagaimana saat ini masih saja diterapkan oleh negara maju. Indonesia telah kecolongan dengan membebaskan bea masuk impor beras 0 persen karena kesalahan diplomasi dalam perundingan dengan IMF akibat tekanan negara-negara maju. Akibatnya, banyak petani gulung tikar, dan berpaling dari usaha tani ke sektor bangunan atau beralih ke tanaman hortikultura dan perkebunan, karena kalah bersaing dengan beras impor.

Selain itu biaya berbagai bahan baku untuk sektor pertanian juga meroket, ditambah dengan semakin banyaknya infrastruktur pertanian yang rusak. Revitalisasi pertanian yang dijanjikan SBY pada awal terpilihnya sebagai presiden, hingga saat ini masih jauh dari harapan. Kini saatnya Bulog tampil membantu petani melalui fungsi pokoknya tersebut.

Ke depan, pemerintah perlu juga menciptakan sinkronisasi kebijakan di bidang perindustrian dan perdagangan, dengan tidak membiarkan mengekspor berbagai komoditi primer yang sangat dibutuhkan untuk keperluan konsumen dan perkembangan industri domestik.

Seperti terjadi dengan kasus kelangkaan minyak goreng bagi konsumen, dan gas bagi keperluan industri keramik dan pupuk, misalnya. Pemerintah harus mengupayakan agar konsumsi dan kebutuhan industri dalam negeri terpenuhi lebih dahulu baru kemudian diekspor. Jika produksi dalam negeri melimpah, perlu diperkuat cadangan untuk menghindari masa paceklik oleh lembaga sejenis Bulog ini, barulah sisanya diekspor.

Bila Bulog tiadak bisa mewujudkan fungsi dan tugasnya, maka Bulog tak lebih sebagai “alat” yang dipergunakan oleh penguasa untuk melakukan penindasan terhadap Petani.

Minggu, Maret 16, 2008

Implikasi Proyeksi Penduduk Terhadap Pengangguran dan Kemiskinan

Bagian Terakhir Dari Dua Tulisan

Ada dua pandangan yang berbeda mengenai pengaruh penduduk pada pembangunan.

Pertama, adalah pandangan pesimis yang berpendapat bahwa penduduk (pertumbuhan yang pesat) dapat mengantarkan dan mendorong terjadinya pengurasan sumber daya, kekurangan tabungan, kerusakan lingkungan, kehancuran ekologis yang kemudian dapat memunculkan masalah-masalah sosial, seperti kemiskinan , keterbelakangan dan kelaparan (Ehrlich, 1981).

Kedua, adalah pandangan optimis yang berpendapat bahwa penduduk adalah asset yang memungkinkan untuk mendorong pengembangan ekonomi dan promosi inovasi teknologi dan institusional (Simon, Schumpeter, 1990) sehingga dapat mendorong perbaikan kondisi sosial. Kedua pandangan tersebut muncul sampai dengan tahun 1970 an.

Di kalangan pakar pembangunan telah ada konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap suplai bahan pangan, namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan, cadangan devisa, dan sumberdaya manusia (Meier, 1995). Setidaknya terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan.

Pertama, akan mempersulit pilihan antara meningkatkan konsumsi saat ini dan investasi yang dibutuhkan untuk membuat konsumsi di masa mendatang semakin tinggi.

Kedua, di negara-negara yang penduduknya tergantung pada sektor pertanian, pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan antara sumberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktivitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya.

Ketiga, semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya kelahiran merupakan penyumbang utama bagi pertumbuhan kota yang cepat dan bermekarnya kota membawa masalah-masalah baru dalam menata maupun mempertahankan kesejahteraan warga kota.

Kajian Okita dan Kureda (1981) yang berusaha mengupas perubahan demografis (transisi) dan dampaknya terhadap pembangunan, khususnya pertumbuhan ekonomi, menunjukkan bahwa perubahan struktur penduduk usia kerja di Jepang, sebagai akibat pesatnya pertumbuhan penduduk berpengaruh pada perluasan kapasitas produksi per kapita dan mempunyai kontribusi cukup penting pada pertumbuhan ekonomi.

Hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa perubahan demografis dapat menyebabkan kemiskinan. Tetapi diakui bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat dapat berimplikasi negatif pada pertumbuhan ekonomi dan upah serta kemiskinan jika tidak dibarengi oleh program pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar bagi publik.

Dan dari telaahan terhadap beberapa penelitian menjelang tahun 2000, diperoleh kesimpulan bahwa (1) pertumbuhan penduduk mempunyai hubungan kuat-negatif dan signifikan terhadap laju pertumbuhan ekonomi, (2) penurunan pesat dari fertilitas memberikan kontribusi relevan terhadap penurunan kemiskinan. Penemuan baru ini memberikan kesan yang amat kuat, dibanding sebelumnya, bahwa fertilitas tinggi di negara berkembang selama ini ternyata merupakan salah satu sebab dari kemiskinan yang terus menerus, baik pada tingkat keluarga ataupun pada tingkat makro (Birdsal dan Sanding, 2001 dalam Sri Moertiningsih, 2005).

Berdasarkan temuan serta hasil proyeksi penduduk Indonesia yang memperlihatkan bahwa laju pertumbuhan penduduk yang pada tahun 2005 sebesar 1,29% akan menurun menjadi 1,21 % pada tahun 2010 dan seterusnya konsisten mengalami penurunan hingga 0,82% pada tahun 2025, maka kita berharap secara konsisten pula tingkat kemiskinan di Indonesia akan semakin menurun. Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh menurunnya mortalitas akan memicu pertumbuhan, sedangkan yang disebabkan oleh peningkatan fertilitas akan menekan pertumbuhan ekonomi.

Namun hasil proyeksi yang sama menunjukkan bahwa proporsi penduduk usia kerja (15-64) relatif konstan yaitu 67% pada tahun 2005 berubah sedikit menjadi 68% pada tahun 2025, padahal proporsi penduduk usia kerja yang besar diharapkan menjadi sumber angkatan kerja yang produktif dan berkemampuan menabung tinggi dibanding penduduk muda (di bawah 15 tahun) dan penduduk tua (di atas 65 tahun) atau yang digolongkan bukan usia kerja.

Dengan pertumbuhan angkatan kerja Indonesia yang diperkirakan tetap tinggi (di atas 3%) hingga tahun 2025 maka tentu sangat berpengaruh terhadap tingkat pengangguran, mengingat penciptaan kesempatan kerja yang tidak mampu mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja akibat laju pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan agak melambat.

Hal ini disebabkan oleh karena sumber-sumber pertumbuhan yang makin terbatas (sumber daya alam) serta kapasitas sumberdaya manusia yang tidak bisa dipacu dalam jangka pendek serta faktor teknologi dan inovasi yang juga terkendala karena Indonesia condong sebagai pengguna daripada pencipta teknologi. Terlebih jika dikaitkan dengan struktur umur penduduk Indonesia yang masih tergolong muda yang juga pada umur-umur muda (15-24) dari data yang ada memperlihatkan tingkat pengangguran yang lebih tinggi ( 14%) daripada umur di atas 25 tahun (4%).

Pandangan Lembaga Survai Internasional Tentang Perekonomian Indonesia 2050

Pada akhir 2005, Goldman Sach kembali melahirkan makalah dengan memperkenalkan istilah baru, yaitu negara-negara yang tergabung dalam N-11 (Next Eleven), yaitu kumpulan negara dengan jumlah penduduk besar di dunia dan berpotensi besar di belakang BRICs (Brasil, Rusia India dan Cina). Kelompok N-11 ini ialah Banglades, Mesir, Indonesia, Iran, Korea, Meksiko, Nigeria, Pakistan, Filipina, Turki, dan Vietnam. Kelompok itu memang mendapat perhatian dari berbagai khalayak.

Bahkan Pricewaterhousecoopers, sebuah kantor akuntan terbesar di dunia, melalui Chief Economist-nya di London, membuat prediksi berjudul The World in 2050 pada Maret 2006. Makalah itu secara khusus menyoroti kelompok khusus yang disebut E-7, The Emerging Seven,

yaitu negara berkembang kelompok tujuh, terdiri dari China, India, Brasil, Rusia, yang termasuk

BRICs, ditambah Indonesia, Meksiko, dan Turki yang kebetulan termasuk kelompok N-11. Kelompok E-7 ini diprediksikan akan melampaui kekuatan ekonomi negara-negara adidaya yang tergabung dalam G-7 pada tahun 2050. Namun, yang menarik adalah adanya hampir kesamaankedua makalah itu mengenai Indonesia.

Dalam tulisan terbaru "N-11: More Than an Acronym", (Global Economics Paper No 153, Maret

28, 2007), Goldman Sach membuat suatu prediksi perekonomian global pada tahun 2050. Dalam makalah itu Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan nomor tujuh di dunia setelah China, AS, India, Brasil, Meksiko, dan Rusia.

Prediksi mirip makalah The World in 2050 yang disiapkan Pricewaterhousecoopers, yang menempatkan Indonesia pada kekuatan nomor enam setelah AS, China, India, Jepang, dan Brasil. Dari kedua tulisan itu menarik disimak bahwa urutan enam besar perekonomian dunia bisa berbeda, tetapi urutan Indonesia keenam atau ketujuh relatif tidak banyak berbeda.

Pada tahun 2025, Goldman Sach memprediksi perekonomian Indonesia akan sebesar di antara

Kanada dan Turki. Dalam hal ini, PDB Indonesia akan menempati urutan ke-14, Kanada berada

di atasnya urutan ke-13. Dua puluh lima tahun kemudian, Indonesia diprediksi menjadi kekuatan ketujuh perekonomian dunia, melampaui Jepang, Inggris, Jerman, Nigeria, Perancis, Korea, dan Turki. Apakah prediksi itu memiliki alasan kuat?

Goldman Sach menggunakan tahun 2006 sebagai tahun dasar. Seberapa akurat data yang digunakan dibandingkan dengan data resmi yang dipublikasikan? Sebagai catatan, Goldman Sach juga menggunakan data ofisial, meski untuk tahun 2006 masih menggunakan angka prediksi.

Ternyata data tahun 2006 yang kita miliki menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan data Goldman Sach. Total PDB, misalnya, mencapai angka sekitar 366 miliar dollar AS dibandingkan dengan prediksi Goldman Sach sebesar 350 miliar dollar AS. Dengan angka lebih tinggi itu, pendapatan per kapita penduduk Indonesia mencapai 1.663 dollar AS tahun 2006, sedangkan menurut data Goldman Sach sebesar 1.508 dollar AS. Selain angka PDB, perbedaan angka pendapatan per kapita juga disebabkan jumlah penduduk yang menurut Goldman Sach sebesar 232 juta penduduk, lebih besar daripada angka sebenarnya.

Dengan perbedaan angka dasar itu, bisa dimengerti jika prediksi PDB Indonesia pada tahun 2010 akan mencapai 419 miliar dollar AS, sementara prediksi yang saya buat cukup konservatif pun menghasilkan angka sekitar 550 miliar dollar AS. Dengan prediksi semacam itu, bisa dimengerti mengapa prediksi Goldman Sach tentang Indonesia menjadi sedikit lebih rendah dibandingkan dengan prediksi yang dilakukan Pricewaterhousecooper.

Table A: Projected real growth in GDP and income per capita: 2005-50 (%pa)








Country

GDP in US $ Term

GDP in domestic currency or at PPPs

Population

GDP per capita at PPPs



India

7.6

5.2

0.8

4.3


Indonesia

7.3

4.8

0.6

4.2


China

6.3

3.9

0.1

3.8


Turkey

5.6

4.2

0.7

3.4


Brazil

5.4

3.9

0.7

3.2


Mexico

4.8

3.9

0.6

3.3


Russia

4.6

2.7

-0.5

3.3


S. Korea

3.3

2.4

-0.1

2.6


Canada

2.6

2.6

0.6

1.9


Australia

2.6

2.7

0.7

2


US

2.4

2.4

0.6

1.8


Spain

2.3

2.2

0

2.2


UK

1.9

2.2

0.3

2


France

1.9

2.2

0.1

2.1


Italy

1.5

1.6

-0.3

1.9


Germany

1.5

1.8

-0.1

1.9


Japan

1.2

1.6

-0.3

1.9


Source: PricewaterhouseCoopers GDP growth estimates (rounded to nearest 0.1%), population growth projections from the UN

Bagi yang skeptis, prediksi ini bisa dianggap membuang-buang waktu. Meskipun demikian, mengingat nama besar kedua institusi itu, rasanya kita perlu melihat secara lebih jernih apa yang mereka lakukan dengan apa yang sudah terjadi beberapa tahun terakhir ini.

Tampaknya, apa yang dimunculkan kedua institusi itu kian menemukan bentuknya dalam "The World in 2007" (Economist edisi Desember 2006). Dalam edisi itu disebutkan ada 66 negara yang memiliki perekonomian terbesar di dunia, dengan data cukup rinci. Dalam daftar itu, Indonesia ada pada urutan ke-21 dengan menggunakan nilai tukar pasar (market exchange rate, bukan dengan PPP rate). Dibandingkan dengan data 2004, Indonesia masih di urutan ke-25-26 bersama Arab Saudi.

Dalam artikel itu disebutkan, PDB Arab Saudi tetap di urutan ke-26 meski terjadi kenaikan amat tinggi harga minyak bumi. Indonesia dalam tiga tahun telah dan akan melampaui Austria, Norwegia, Turki, dan Polandia. Tahun ini diprediksi PDB Indonesia akan mencapai sekitar 410 miliar dollar AS. Ini bisa membawa Indonesia pada urutan ke-20, melampaui Taiwan. Pada tahun 2010, seperti dikemukakan sebelumnya, Indonesia akan melampaui Swiss, Swedia, dan Belgia, dengan total PDB sekitar 550 miliar dollar AS. Jika ini terjadi, posisi ke-14 sebagaimana prediksi Goldman Sach tahun 2025, bukan tidak mungkin akan terlampaui bahkan sebelum akhir tahun 2020.

Semoga mimpi ini akan membawa kemakmuran lebih besar bagi penduduk Indonesia tanpa

terkecuali.

PROYEKSI PENDUDUK INDONESIA TAHUN 2000-2025 SEBUAH PELUANG DAN TANTANGAN

Bagian Pertama Dari Dua Tulisan

Untuk menganalisis implikasi proyeksi penduduk terhadap pembangunan berkelanjutan bidang ekonomi perlu diketahui terlebih dahulu bagaimana hubungan pertumbuhan penduduk dengan pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi tidak sama dengan pertumbuhan ekonomi. Hubungan pertumbuhan penduduk dengan pertumbuhan ekonomi sendiri memiliki tiga kemungkinan yakni menghambat, menunjang dan tidak ada hubungan

Penduduk pada hakekatnya dapat diibaratkan sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi penduduk yang besar dan berkualitas akan menjadi asset yang sangat bermanfaat bagi pembangunan, namun sebaliknya penduduk yang besar tapi rendah kualitasnya justru akan menjadi beban yang berat bagi pembangunan.

Berbagai bukti empiris menunjukan bahwa kemajuan suatu bangsa sebagian besar ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia dan bukan oleh sumber daya alamnya. Negara-negara seperti Singapura, Hongkong, Korea, Taiwan, Jepang dan sebagian besar negara-negara maju di dunia dapat dikatakan miskin akan sumber daya alam, tapi mereka dapat berkembang dan maju dengan pesat karena mereka mempunyai kualitas sumber daya manusia yang tinggi dan tetap melakukan investasi pembangunan yang memadai dalam bidang ini.

Penduduk Indonesia kualitasnya saat ini masih sangat memprihatinkan. Berdasarkan penilaian UNDP, pada tahun 2003 kualitas sumber daya manusia yang diukur melalui Indeks Pembangunan Manusia (human development index) Indonesia mempunyai ranking yang sangat memprihatinkan, yaitu 112 dari 175 negara di dunia. Dalam kaitan ini program kependudukan dan keluarga berencana merupakan salah satu program investasi pembangunan jangka panjang yang mesti dilakukan sebagai landasan membangun SDM yang kokoh di masa mendatang.

Dalam proyeksi tersebut, asumsi Angka kelahiran total (total fertility rate/TFR) ditetapkan bahwa secara nasional tahun 2015 sebagai waktu tercapainya NRR=1 atau setara dengan TFR=2,1. Target ini disesuaikan dengan visi keluarga berkualitas BKKBN dan sasaran Millenium Development Goals (MDGs). Setelah TFR mencapai 2,1 maka akan diupayakan konstan sampai dengan tahun 2025. Sebagaimana tingkat nasional, apabila TFR suatu provinsi sudah mencapai TFR=2,1 juga akan diupayakan konstan. Untuk provinsi-provinsi yang saat ini mempunyai TFR di bawah 2,1 maka angkanya akan diturunkan hingga mencapai 1,6. Sementara itu jika suatu provinsi telah memiliki TFR di bawah 1,6 angkanya akan dipertahankan atau diusahakan konstan.

Berkenaan dengan fenomena permasalahan serta hasil proyeksi penduduk hingga 2025 tersebut di atas maka untuk mencoba mengurai beberapa hal yang relevan diantaranya adalah i) meninjau sejauh mana integrasi aspek kependudukan ke dalam paradigma pembangunan berkelanjutan di Indonesia, khususnya di bidang ekonomi, (ii) mengupas pentingnya variabel penduduk dalam konteks perencanaan pembangunan bidang ekonomi meliputi persebaran penduduk, pengangguran, dan penanggulangan kemiskinan serta (iii)) implikasi hasil proyeksi untuk bidang-bidang ketenagakerjaan, dan kemiskinan.

Integrasi Aspek Kependudukan dalam Paradigma Pembangunan Ekonomi Berkelanjutan

Dalam praktek pembangunan di beberapa negara, setidaknya pada awal pembangunan, umumnya berfokus pada peningkatan produksi. Meskipun banyak varian pemikiran, pada dasarnya kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Oleh karena itu strategi pembangunan yang dianggap paling sesuai adalah akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan mengundang modal asing dan melakukan industrialisasi.

Peranan sumber daya manusia (SDM) dalam strategi semacam ini hanyalah sebagai "instrumen" atau salah satu "faktor produksi " saja. Manusia ditempatkan dalam posisi instrumen dan bukan merupakan subjek dari pembangunan. Titik berat pada nilai produksi dan produktivitas telah mereduksi manusia sebagai penghambat maksimisasi kepuasan maupun maksimisasi keuntungan.

Alternatif lain dari strategi pembangunan manusia adalah apa yang disebut sebagai "people centered development" atau "putting people first" Artinya manusia (rakyat) merupakan tujuan utama dari pembangunan, dan kehendak serta kapasitas manusia merupakan sumberdaya yang paling penting. Dimensi pembangunan semacam ini jelas lebih luas daripada sekedar membentuk manusia profesional dan trampil sehingga bermanfaat dalam proses produksi.

Penempatan manusia sebagai subjek pembangunan menekankan pada pentingnya pemberdayaan manusia yaitu : kemampuan manusia untuk mengaktualisasikan segala potensinya. Kebalikan yang pertama yang menekankan bahwa kualitas manusia yang meningkat dijadikan prasyarat utama dalam proses produksi dan memenuhi tuntutan masyarakat industrial.

Berdasarkan hasil Proyeksi penduduk tahun 2000-2025 dengan asumsi tersebut di atas diperoleh beberapa hal penting yaitu :

1. Jumlah penduduk Indonesia selama 25 tahun mendatang terus meningkat yaitu dari 205,8 juta pada tahun 2000 menjadi 273,7 juta pada tahun 2025. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia rata-rata pertahun selama periode 2000-2025 menunjukan kecenderungan terus menurun. Pada periode 2000-2025, penduduk Indonesia bertambah dengan kecepatan 1,36 persen per tahun. Pada periode 2020-2025 turun menjadi 0,98 persen per tahun. Turunnya laju pertumbuhan penduduk ini diakibatkan oleh turunnya angka kelahiran dan kematian. Namun penurunan angka kelahiran lebih cepat daripada penurunan angka kematian crude birth rate (CBR) turun dari 21 per 1000 penduduk pada awal proyeksi menjadi 15 per 1000 penduduk pada akhir periode proyeksi, sedangkan crude date rate (COR) tetap sekitar 7 per 1000 penduduk pada kurun waktu yang sama.

2. Persebaran penduduk Indonesia antar pulau dan antar provinsi tidak merata. Persentase penduduk Indonesia yang tinggal di Pulau Jawa terus menurun yaitu dari sekitar 58,9 persen pada tahun 2000 menjadi 55,4 persen pada tahun 2025. Sebaliknya persentase penduduk yang tinggal di pulau lain meningkat. Sebagai contoh, pulau Sumatera mengalami kenaikan dari 21 persen menjadi 23,1 persen selama periode proyeksi.

3. Persentase penduduk umur belum produktif (0-14 tahun) secara nasional menunjukan kecenderungan semakin menurun yaitu dari 30,7 persen pada tahun 2000 menjadi 22,8 persen pada tahun 2025. Sementara itu persentase penduduk usia produktif (15-64 tahun) meningkat dari 64,6 persen pada tahun 2000 menjadi 68,7 persen pada tahun 2025, dan mereka yang berusia 65 tahun ke atas (sudah tidak prodiktif) naik dari 4,7 persen menjadi 8,5 persen. Perubahan struktur umur ini mengakibatkan beban ketergantungan atau dependency ratio turun dari 54,7 persen pada tahun 2000 menjadi 45,6 persen pada tahun 2025.

Proyeksi Jumlah Penduduk 2000 – 2025 (Dalam Ribuan)

USIA

2000

2005

2008

2009

2010

2015

2020

2025

(0-14)

62.969,0

61.981,0

61266.6

61016.5

60777.4

61822.8

62413.7

62385.8

(15-64)

132.605,1

146280.9

154714.5

157496.8

160258.4

171067.3

180403.5

187715.7

(64-70+)

9.557,9

10942.4

11798.0

12119.4

12441.6

14682.3

18187.8

23117.7

Total

205132.0

219204.3

227779.1

230632.7

233477.4

247572.4

261005.0

273219.2

4. Terkait dengan perubahan dependency ratio, maka Indonesia akan mendapatkan demographic bonus (kondisi dimana dependency ratio berada pada tingkat yang terendah) selama 10 tahun yaitu antara tahun 2015 sampai 2025, dengan syarat TFR 2.1 atau NRR=1 dapat dicapai pada tahun 2015. Pada kurun waktu tersebut dependency ratio berada pada tingkat 0,4 sampai 0,5 atau disebut dengan "Window Opportunity".

5. Dengan asumsi penurunan fertilitas dan mortalitas serta perubahan struktur umur seperti diuraikan di atas, Indonesia akan mencapai "Replacement Level". (NRR=1) atau setara dengan TFR 2,1 pada tahun 2015. Beberapa provinsi yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Utara sudah mencapai tingkat NRR=1, jauh sebelum tahun 2015 yaitu pada periode tahun 1996-1999. Pada akhir periode proyeksi hampir semua provinsi telah mencapai "Replacement Level".

6. Angka harapan hidup, diperkirakan meningkat dari 67.8 tahun pada periode 2000-2005 menjadi 73,6 tahun pada periode akhir proyeksi (2020-2025). Pada awal proyeksi, angka harapan hidup terendah terdapat di NTB (60,9 tahun) dan tertinggi di DI Yogyakarta (73,0 tahun). Pada akhir periode proyeksi, angka harapan hidup berkisar antara 70,8 hingga 75,8 tahun untuk provinsi yang sama seperti pada awal proyeksi.

Dengan hasil proyeksi tersebut berarti penduduk Indonesia dalam beberapa tahun mendatang akan terus meningkat jumlahnya. Hal ini dimungkinkan karena masih banyak jumlah perempuan dalam usia reproduksi sebagai akibat dari tingginya kelahiran di masa lalu.

Penduduk tidak lagi mengalami pertambahan (Zero Population Growth=ZPG) setelah dalam jangka waktu yang panjang (minimal satu generasi) telah mencapai tumbuh seimbang yang diperkirakan akan dicapai pada tahun 2050 dengan jumlah penduduk 293 juta jiwa.


Selasa, Maret 11, 2008

Pesisir Pantai Pun Bisa Untuk Bercocok Tanam

Bila kita mendengar pesisir pantai pasti bayangan kita tertuju pada sebuah lahan pasir yang terhampar luas dipinggiran pantai, tandus dan berangin kencang. Dan biasanya tidak ada satu tanaman pun yang bisa tumbuh dengan baik disana. Namun kenyataan itu bertolak belakang bila kita mengunjungi lahan pesisir pantai di Kulonprogo Jogjakarta. Lewat rekayasa teknologi pertanian, lahan pesisir pantai yang tadinya tandus berubah menjadi kawasan yang subur untuk bercocok tanam. Hal ini ditunjang dengan tersedianya sumber pengairan air tawar yang berasal dari kali Progo dan Bugunto yang meresap pada lahan pasir dengan kedalaman 1,5 - 5 meter.

Panjang garis pantai yang merupakan lahan pesisir pantai di Kulonprogo mencapai 22 km dengan lebar 1,8 km atau luas keseluruhan mencapai 3.000 H dan bisa menyerap tenaga kerja kurang lebih 15.000 orang. Namun sayang ketenangan petani penggarap tanah yang berstatus Pakualaman Ground itu kini terusik dengan rencana pemerintah Daerah Istimewa Jogjakarta dan pemda Kulonprogo yang telah "menjual" lahan tersebut kepada investor asing untuk dijadikan tambang Pasir Besi.

Rencana penambangan pasir besi tersebut membuat gerah para pihak, terutama pihak Fakultas Pertanian UGM yang telah lama melakukan pendampingan. Selain itu, BUNG AK juga dibuat geram oleh rencana penambangan pasir besi tersebut. Sebab selama ini BUNG AK telah melakukan serangkaian penelitian untuk menanam tanaman keras dilahan tersebut. Selama ini petani hanya menanam tanaman semusim seperti semangka, cabe, sayuran, kacang tanah, bawang merah.

Ditangan BUNG AK lahan yan tadinya tandus bisa ditanami pohon sawo, pepaya, jeruk, kurma, kelengkeng, dll. Selain itu Bung AK juga menanam Padi, Sayuran, Kacang Tanah. Namun demikian cara budidaya yang berbeda. Terutama menyangkut rekayasa lahan pasir agar tanaman bisa tumbuh subur. Seperti diketahui lahan pasir pada umumnya tidak akan bisa menyimpan air begitu disirami. Untuk mengatasi kendala ini biasanya petani melakukan penyiraman tiap hari. Supaya tidak meyirami tanaman tiap hari, BUNG AK melapisi lahan tanam dengan plastik dibawahnya supaya air tertampung disitu.

Hasil rekayasa tersebut sebenarnya cukup baik, namun daya tahan plastik tersebut tidak tahan lama. Kondisi ini membuat BUNG AK memutar otak bagaiman caranya pasir tersebut bisa mengikat air. Sehingga ketika lahan pasir tersebut diairi tidak cepat kering. Lahan pasir tetap menjadi basah. Hasil penelitian itu kini telah diujicobakan untuk beberapa tanaman. Dari hasil pengamatan sementara petani dilahan pasir tidak harus menyirami lahannya tiap hari. Cukup 2 kali sehari. Bahkan bila hujan dengan intensitas yang lama dan cukup deras, petani bisa tidak mengairi lahan pasirnya selama 4 hari.

Kamis, Maret 06, 2008

Pepeling Untuk Anakku

Ketahuilah anak-ku
Rumah ini rumah singgah
Kuburan adalah rumah abadimu
dimana blatung akan menggerogoti jasadmu

Keelokan tubuhmu pun kini hanya TONG-TAI yang berjalan
Reputasimu, kebanggaanmu, kemegahanmu & kesombonganmu
hanya menggelapkan mata batinmu dari memandang Allah

Ingatlah anak-ku
Setiap debu dari nafas kehidupan rumah ini
ada hitungan di hadapan-Nya
Semua dipertanggungjawabkan

Jadi setiap laku lampah hidup ini
hanya sebagai sarana mengabdi
berjalan melaksanakan "Darmaning Satrio"

Batu ini keras anak-ku
namun dapat dipahat indah penuh tuah
jangan hatimu lebih keras dari batu ini
Cukup batu nisan indah yang tak bisa dipakai si empunya ini
sebagai "kaca benggolo" bagi hatimu

Yogya, 28 Mei 2007
Bapakmu
BSW Adjikoesoemo

Bait demi bait tulisan penuh makna itu terpahat pada Tetenger terbuat dari batu marmer berbentuk kotak bersegi panjang lebar 70 cm, tinggi satu tengah meter yang ditaruh di pojok ruang tamu rumah Adjiekoesoemo di perumahan Griya Mahkota, Jl Godean Yogyakarta. Di sisi sebelah kiri batu tersebut terdapat tulisan:

Cherrie Wijnschenk
Geb, 9 Juni 1857
Overl, 31 December 1934

Cherrie Wijnschenk inilah si empunya tetenger terbuat dari marmer, seorang warga Belanda yang tidak sempat memakai batu nisan tersebut untuk pusaranya. Justru Adji-lah yang berhasil memanfaatkan batu tersebut sebagai pepeling atau pengingat untuk anak-anaknya bahwa semua kekayaan, harta benda yang dimilikinya hanya sebagai alat untuk mengabdi kepada Sang Khalik, bukan sebagai tujuan.

"Dalam ceramah2 agama saya sering bilang bahwa kita umat Islam perlu kaya, termasuk sufi pun harus kaya. Tapi sekali-kali tidak boleh hati kita tertambat pada harta kekayaan kita. Nah supaya tidak dibilang 'jarkoni' (isa ngajari ora bisa nglakoni/bisa mengajari tetapi tidak bisa menjalani) maka saya ingin membuktikan saya pun juga bisa kaya. Tapi tujuan kita hidup bukan itu, melainkan hanya sebagai alat untuk berjihad di jalan Allah," kilah Adji suatu ketika pada penulis. Memang setiap malam Rabu dan Jumat, Adji selalu memimpin zikir yang diawali dengan memberi taushiyah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan amalan tasawuf.

Saya jadi teringat pada guru ruhaniku, seorang mursid thoriqoh di Jatim yang selalu menekankan pada jutaan murid-muridnya untuk untuk selalu memperbanyak mengingat Allah, dzikron katsiron, menjaga keseimbangan antara jasmani dan ruhani, antara syariat dan hakekat, antara dhohir dan batin, antara fikir dan rasa, antara aqal dan qalbu, antara iman dan kemanusiaan untuk menuju sempurnanya hidup.

Selama ini mungkin masih banyak orang awam yang berpikir bahwa tasawuf hanya memikirkan akhirat dan menjauhi hal-hal yang bersifat duniawi/fana. Mereka pekerjaannya hanya berzikir, munajat terus pada Allah agar dapat makrifatullah. Namun pikiran itu tidaklah benar. Karena, paling tidak yang saya lihat sendiri, guru saya meskipun dikenal sebagai mursid tasawuf tetapi juga memiliki kekayaan yang nilainya mungkin ratusan miliar rupiah, mulai dari aset gedung- gedung di pondok pesantrennya yang luasnya mencapai puluhan hektar sampai menjadi komisaris di beberapa perusahaan, termasuk perusahaan Mitra Sigaret PT HM Sampurna. Di Cilegon konon juga ada seorang mursid thoriqoh yang memiliki perusahaan baja bernilai triliunan.
Lalu makna apa yang bisa dipetik dari "pepeling" yang dibuat oleh Adjikoesoemo?

Nasihat Luqman untuk Anaknya

Tanbeh atau pengingat yang ditulis sohib Adji tersebut mengingatkan saya pada nasihat Luqman Hakim yang hidup di zamannya Nabiyulloh Dawud As. Dalam kitab "Al Munabbihat Lil isti'aadi Liyaumil Ma'aad (Pengingat untuk persiapan hari kiamat) yang disusun oleh Syihabuddin Ahmad dijelaskan pada suatu saat Luqman memanggil anaknya untuk dinasihati.

Bunyi nasihat Luqman itu, "Wahai anakku sesungguhnya pada manusia itu terbagi menjadi 3 bagian, yaitu : 1 Sepertiga bagi Allah, 2. Sepertiga bagi dirinya sendiri, 3. Sepertiga untuk ulat- ulat/blatung."
Marilah kita selami nasihat luqman yang kata-katanya mengandung hikmah-hikmah yang sangat dalam sehingga ia mendapat julukan Al Hakim dan namanya diabadikan menjadi sebuah surat dalam Alquran (surat ke-31). Mengingat pembahasan disini lebih banyak mengupas makna batin, mungkin agak sedikit berat untuk memahaminya.

1. Sepertiga untuk ulat-ulat.

Yang dimaksud sepertiga untuk ulat yaitu 7 unsur jasmani (bulu, kulit, daging, darah, otot, tulang, sumsum) adalah bagiannya blatung dalam tanah. Dalam Alquran diterangkan bahwa manusia itu diciptakan dari tanah dan akan dikembalikan ke induknya yaitu tanah. Dan dalam hadis Nabi dijelaskan bahwa tanah itu adalah ibumu. Jadi kita akan dikembalikan ke ibu kita. "Dari bumi Aku ciptakan kamu semua dan kepada bumi Aku kembalikan kamu semua (Toha/S.20/55).

Jadi, ingatlah bumi itu adalah ibumu yang akan menceriterakan semua apa yang kamu berbuat, kembali kepada induknya, itulah jasmani. Makanya Sang Maha Pencipta memerintahkan kamu untuk menghormati ibumu, "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi (S Al Arof, ayat 56))"
Kata ibumu (bumi), "Kamu dulu suci tak berdosa, sekarang kamu kembali kepadaku. Dan dulu kamu berbuat jahat berada di punggungku berani terhadap Allah, kau diberi nikmat tidak syukur, diberi kekuatan katamu itu kekuatanmu sendiri"..

2. Sepetiga bagi manusia

Bagian sepertiga yang kembali ke manusia itu amalnya dan hanya inilah yang dimiliki oleh manusia nanti di akherat. Dalam surat Hamim Assajadah, Alloh berfirman, "barang siapa yang beramal baik itu untuk (kembali) pada dirinya sendiri dan barang siapa yang durhaka maka durhakanya menimpa atas dirinya sendiri. Tuhanmu tidak menganiaya kepada hambanya".
Semua amal sholeh (amal yang baik, yang indalloh, yang mukhlis) seperti amal syukur, sabar, sholat, zakat dan lainnya maupun amal buruk semuanya akan kembali kepada dirinya sendiri. Kecuali masalah puasa. Sebab puasa sudah diklaim oleh Alloh ta'ala :"Puasamu itu untuk Aku, selainnya ambillah".

Jadi apakah kita itu memilih kenikmatan (yang ditimbulkan dari amal sholeh) atau kesengsaraan (dari amal buruk), semua terserah kita, kita punya akal untuk memilih. Lainnya tidak ada yang bisa dimiliki (karena ruh sudah menjadi hak Alloh, sedangkan dunia harus ditinggalkan).
Jadi jelas sudah bahwa kesempatan kita untuk beramal saleh, sebagai satu-satunya yang akan kita miliki di akherat, hanyalah waktu di dunia ini, maka kita harus cepat-cepat beramal saleh. Di akherat sudah tidak ada ibadah lagi, tidak ada sholat, zakat, puasa, haji dan seterusnya.

3. Sepertiga bagi Allah

Yang dimaksud 1/3 bagi Allah itu ruh. Ruh lah yang akan kembali kepada Allah. Nah sebelum jasmani berpisah dengan ruh, kita harus berusaha mengetahui sempurnanya mati. Hidupnya ruh di dunia itu ibarat air yang turun dari langit sebagaimana firman Allah S Yunus ay 24, "Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu seperti air (hujan) yang kami turunkan dari langit".


Air yang turun dari langit sebelum menyentuh bumi adalah air suci bersih, setelah menyentuh tanah lalu berjalan jauh campur dengan bermacam-macam kotoran, ada yang melalui sungai- sungai besar, sungai-sungai kecil. Begitu juga dengan ruhani, ini sama dengan bumimu, Disitu larut macam-macam dosa.Ada yang lewat sungai mata, sungai kuping, sungai tangan, sungai kaki, sungai lisan. Yang melalui sungai lisan inilah yang paling banyak dilewati dosa, wujud bisa mengguncing, memfitnah, berkata kotor.

Mengingat masalah ruh adalah masalah yang sangat rumit, kita dilarang membahas zat ruh. Imam Al Ghozali di dalam kitab Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa yang diperbolehkan hanyalah membahas sifat-sifatnya ruh. Seperti halnya kita dilarang berfikir tentang zat Allah, tapi tidak dilarang berpikir tentang sifat-sifat Allah, seperti sifat Rohman, Rohim, Adil dsb..
Rasululloh saw bersabda: "berpikirlah kamu tentang nikmat Allah tapi jangan kamu berfikir tentang zat Allah".. Jadi mengingat fikiran itu tidak mungkin mampu berfikir tentang zat Allah dan kalau dipaksakan akan rusak, maka janganlah kita memikirkan zat Allah. Karena sebagaimana firman Allah, "Amruhu min amri Robbii" (Ruh itu termasuk urusan Tuhanku".

Inilah sedikit makna yang bisa saya ambil dari pesan yang ditulis sohib saya, "Pepeling untuk Anakku" yang dipahatkan di batu marmer di rumahnya. Semoga hati kita dibukakan untuk bisa mengambil hikmah dari pepeling di atas. Amin. (ahmad suroso)

Sumber : maulhayat.blogspot.com/2008/01/pepeling-untuk-anakku.html

Minggu, Februari 17, 2008

Tes Komparasi BBN Vs Premium, Uji Performa Mesin

Sumber : http://www.motorplus-online.com/articles.asp?id=12049

Minggu lalu MOTOR Plus sudah mengenalken BBN (Bahan Bakar Nusantara) yang terbuat dari biota laut. Temuan BSW Adjikoesoemo asal Jogja itu mengundang decak kagum lantaran harganya hanya Rp 1.500. Namun meski murah katanya punya angka oktan 94 yang setara Pertamax.

Nah, sebagai ajang pembuktian, coba BBN dikomparasi dengan Premium. Pertimbangannya BBN harusnya lebih bagus dibanding Premium yang oktanya hanya 90. Untuk itu coba dites di Yamaha Jupiter-Z, motor lokal yang diproduksi masal. Menggunakan dynotest merek Dynojet 250 milik BRT (Bintang Racing Team).

POWER LEBIH

Hasil yang sulit dipercaya! Masak sih bahan bakar yang katanya cuma Rp 1.500 bisa mengalahkan Premium yang bersubsidi dijual Rp 4.500. Tapi, mau bilang apa? Ini fakta! Hasil pengujian bisa dilihat sendiri di grafik.

Baik itu bicara power alias tenaga, juga torsi. BBN mampu mengalahkan Premium hingga 0,37 daya kuda (dk). Bukti berkata, power maksimal yang diberikan BBN sanggup memuntahkan tenaga hingga 7,71 dk. Bahkan tenaga puncak itu didapat lebih awal ketimbang Premium. Ya, peak power dicapai di angka 7.800–8.400 rpm.

Ini, jelas beda dengan Premium yang cuma menyemburkan tenaga sekitar 7,34 dk. Selain kalah power, Premium juga mengharuskan sobat memutar grip gas lebih lama ketimbang plankton. Karena tenaga yang diberikan Premium memuncak di angka 8.700–9.100 rpm.

Lambat ‘memanasnya’ Premium jelas sedikit memberikan kerugian buat yang butuh tenaga ekstra cepat dan suka gantung rpm. Artinya power yang dibutuhkan lambat sampai. Begitupun hasil pengukuran torsi. Maksudnya Premium kudu mengakui kehebatan bahan bakar ‘instan’.
Sebabe, torsi yang diberikan Premium terpaut 0,25 ft-lbs (0,34 Nm) di bawah biota. Ya, berdasarkan hasil yang diberikan, Premium hanya mampu naik hingga 5,42 ft-lbs (7,35 Nm). Sedang biota sanggup naik lagi hingga angka akhirnya berhenti di 5,67 ft-lbs (7,69 Nm).

KENALPOT RACING

Sekali lagi, wuih... Hasil yang sulit dipercaya. Dalam benak Em-Plus sendiri juga bertanya-tanya, lho. Akhirnya diputuskan buat tes berikutnya. Gimana kalau adu performa dilanjutkan jika Jupiter-Z pakai knalpot racing?

Meski hasilnya nggak terlalu jauh ketimbang knalpot standar, tetap saja Premium kalah. Ya, Premium hanya bisa semburkan tenaga hingga 8,05 dk dengan torsi maksimum di 5,61 ft-lbs (7,6 Nm).

Boleh dibanding dengan biota yang unggul dengan tenaga akhir di 8,21 dk dengan torsi maksimal di 5,77 ft-lbs (7,8 Nm). Itu artinya tenaga Premium kalah 0,16 dk, ketimbang plankton. Sedang torsinya, juga kalah 0,16 ft-lbs (0,22 Nm). Wuih...

BBM LEBIH IRIT

Dalam komparasi BBN dan Premium, juga dilakukan uji analisis air fuel ratio atau AFR. Artinya perbandingan pemakaian bahan bakar dan udara. Secara teori, pembakaran sempurna diperlukan 1 molekul bahan bakar dan 14 molekul udara. Akan terbakar tuntas dan tidak menyisakan kerak. AFR-nya 1/14.

Perlu diketahui, dalam pengujian AFR harus menggunakan knalpot racing. Supaya sensor AFR bisa dipasang masuk di dalam silencer. Kalau knalpot standar susah pasang sensornya.

Dari hasil pengujian, menggunakan Premium grafik AFR berwarna merah. Sedang pakai BBN biru. Bisa dianalisis, garis merah (Premium) selalu di atas biru (BBN). Artinya AFR Premium lebih kecil atau tipis. Perbandingan miskin bensin namanya. Ruang bakar dan kepala busi cenderung kering.
Berbeda dengan BBN (biru) yang garisnya di bawah merah. Artinya AFR lebih besar atau perbandingan kaya. Artinya kaya bensin. Contoh pada gasingan 6.000 rpm. Menggunakan Premium AFR-nya 1/12. Sedang BBN AFR-nya 1/11,5. Artinya memakai Premium oksigen 12 molekul, sedang pakai BBN oksigen hanya 11,5. Berarti menggunakan BBN sedikit oksigen tapi banyak bahan bakar.

Sehingga menggunakan BBN ruang bakar cenderung berkerak dan kotor. “Petanda spuyer minta dikecilkan. Artinya menggunakan BBN lebih irit,” jelas Tomy Huang, bos Bintang Racing Team yang ikut menyaksikan pengetesan.

Menurut Tomy Huang, menggunakan BBN spuyer bisa turun 2 step lebih. Seperti di Jupiter-Z yang asalnya main-jet 105 bisa turun 100 atau bahkan 95. “Selain lebih irit, juga pasti akan lebih bertenaga,” jelas Tomy yang penemu CDI Cibinong alias BRT itu.

Pak Tomy juga memberi solusi jitu lain. Kalau tidak mau mengganti spuyer bisa saja. Caranya derajat pengapian dimajukan 2 sampai 4 derajat. Misalnya Jupiter-Z asalnya timing pengapian di gasingan atas 32 derajat sebelum TMA (Titik Mati Atas). Bisa diset 34 atau 36 sebelum TMA.
Untuk seting timing pengapian bisa pakai CDI racing kohar (korek harian). “Rata-rata CDI kohar timing pengapiannya sudah maju 2 derajat. Sehingga pembakaran lebih bersih dan sempurna,” jelas Tomy.

UJI PENGUAPAN

ari pengakuan sang penemu BBN setara Pertamax. Artinya lebih cepat menguap dibanding Premium. Untuk itu coba juga tes penguapan kedua bahan bakar beda asal itu. Diteteskan di atas kertas putih, mana yang lebih cepat menguap.

Tes ini bisa mengetahui penguapan secara awam. BBN menguap dan hilang dari kertas putih dalam waktu 1 menit 12 detik. Sedang Premium butuh waktu lebih lama, tepatnya 1 menit 29 detik.

Selasa, Februari 12, 2008

DARI BIOTA LAUT SETARA PERTAMAX

Pengantar
Berikut ini berita yang dimuat di Tabloid Motor Plus No. 467/VIII. Sabtu, 9 Februari 2008. Temuan Bahan Bakar Nusantara (BBN) dari biota laut ini dimaksudkan sebagai upaya dari Bung AK untuk mewujudkan Kedaulatan Energ
i. Bung AK bercita-cita pada tahun 2014 nantinya 50% energi dunia ada di Indonesia. Sekarang ini 40% energi dunia dikuasai oleh Amerika Serikat (Red)

Sumber : http://www.motorplus-online.com/articles.asp?id=12003

Krisis energi mendorong banyak orang berkreasi dan melakukan penelitian. Termasuk penelitian tentang Bahan Bakar Minyak (BBM) yang semakin langka dan makin mahal harganya. Inilah yang mendorong BSW Adji Koesoemo dari komunitas Indonesia Bangkit melakukan riset biota laut yang dapat menghasilkan minyak.

“Saya riset bertahun-tahun. Saya sadar bahwa negeri ini 50% dikelilingi laut yang sangat kaya biota laut atau semacam plankton, bisa diolah menjadi minyak mentah. Dan hasilnya berupa BBM setara pertamax. Karena kadar oktannya sudah mendekati 94. Dan harga jualnya cukup menggiurkan karena hanya Rp 1.500,- per liter.” Buka BSW Adjikoesoemo.

Akhirnya, “Temuan ini diberi nama Bahan Bakar Nusantara (BBN),” jelas BSW Adjikoesoemo saat dijumpai di Perim Griya Mahkota, Blok J No. 13 Jogjakarta. Menurutnya untuk memproduksi BBN ini, tidak diperlukan biaya mahal. Karena biaya produksi per liter hanya perlu biaya antara Rp 340 – 500.

“Jadi, memang sangat murah sekali. Dan dipastikan rakyat Indonesia tidak mengeluh boros mengeluarkan uang untuk membeli BBM yang saat ini teramat mahal,” kata pria biasa disapa Bung AK ini.

Biota laut masih dalam bentuk aslinya diproses atau diolah dan menghasilkan beberapa bagian. Diantaranya 60% air, 10% residu atau ampas dan 30% minyak mentah. Dari hasil 30% minyak mentah diproses lagi dengan cara penyulingan dan menghasilkan bensin, solar dan minyak tanah. Ampas juga bisa untuk pakan ternak, pupuk dan apabila dicampur tanah (abu-abu dari Kebumen-red) akan menjadi aspal.

Dan untuk perkembangbiakan biota laut, bisa dilakukan di darat dengan kelembaban tertentu. Pemanenan biota laut bisa dilakukan setiap 10 hari sekali. Setiap satu hektar lahan menghasilakan 140 ribu liter.

“Nantinya temuan ini akan saya serahkan ke pemerintah (maksudnya Negara-red), biar mereka yang mengelola. Disamping itu, agar rakyat di negeri ini menjadi makmur,” tutup Adjikoesoemo yang masih kerabat Sri Sultan ini.

AKADEMISI BERKOMENTAR

Dr. Supranto yang Ketua Pasca Sarjana Teknik Kimia Universitas Gajahmada (UGM) Jogjakarta membenarkan adanya temuan biota laut yang dapat diolah menjadi minyak. Biota laut yang dikembangkan berupa tumbuhan atau sejenis rumput laut. Atau tanaman rendah yang banyak mengandung asiri dan hidro karbon.

Biota laut jenis ini tidak telihat mana batang, daun ataupun bunga, karena bentuknya sama semua. Dan jenis ini memang bisa dikembangkan di darat dengan kadar kelembaban udara tertentu,” jelas Bapak murah senyum ini.

Dikatakan lebih lanjut , untuk pengolahan bisa ditempuh dengan dua cara. Yaitu dengan estilasi, dimana biota laut diolah dengancara dilarutkan dalam solven atau pelarut. Pelarut bisa berupa etanol, alcohol atau benzene.

Cara kedua lewat langkah destilasi. “Atau orang biasa menyebutnya cara penyulingan. Relatif lebih murah dari langkah yang pertama. Karena dengan sistim pemanasan, akan dipisahkan menjadi bahan bakar padat, cair dan gas,” terangnya lagi.

Bahan bakar gas yang dimaksud adalah LPG, bisa dipakai untuk keperluan masak. Sedang yang cair bisa berupa minyak tanah, solar dan bensin. Dan dari hasil penyulingan itu, akan dihasilkan pirolosis atau termal cracking. Itupun masih harus dipisahkan lagi antara bensin, solar dan minyak tanah. Dan bensin yang dihasilkan mengandung oktan antara 86-94 atau hamper setara Pertamax.

Juga akan terasa agak wangi karena kandungan alkoholnya tinggi. “Dan tidak menutup kemungkinan bahwa temuan Adji ini merupakan loncatan yang luar biasa dan harus digandeng oleh pemerintah selaku pihak yang sangat berkompeten,” tutupnya penuh harap

HASIL UJI COBA EM-PLUS

1. Warna bensin seperti Premium pada umumnya
2. Saat dicium bensin memang rada lebih wangi. Kata Dr. Supranto karena masih mengandung alkohol
3. Diuji di Yamaha Mio, bahan bakar yang sebelumnya ada ditangki dan karburator tentu dikuras.
4. Kemudia dituangkan bensin dari biota laut ini sebanyak setengah liter untuk dicoba.
5. Motor distandar tengah, mesin dinyalakan beberapa saat. Memainkan putaran mesin dan digas sampai mentok.
6. Motor dijalankan mulai dari Jl. Kaliurang KM 6,5 menuju Kaliurang yang kontur jalannya semakin naik. Mulai jalan pelan dan stabil antara 30 – 40 KM/jam.
7. Dicoba kecepatan tingggi setelah memasuki wilayah Pakem KM 15. Jalan mulai naik dan turun. Pada kecepatan tinggi mesin juga tidak menimbulkan gejala mbrebet. Dan begitu sampai kaliurang, bensin habis dan tidak mengalami hambatan